Minggu, 14 April 2013

Tempurung Besi.....

Entah apo pasal pulak dua kata ini selalu meranapakan ke dalam fikiran ku.. Tempurung besi ni mengingatkan aku pada trilogi Kisah dari abang Mamad khalid yang sangat terkenal dan Box office.... Pak Jabit Apo kabo..... Husen.....Orang mude taik kude yang badan Gebu.... Wan Kaswi....III sabo jelah

Minggu, 22 Juli 2007

Biofuel Masih Menjanjikan

Energi berkaitan langsung dengan pertumbuhan Poduk Domestic Bruto (PDB) suatu negara indikatornya kita kenal dengan koefisien elastisitas penggunaan energi. Untuk negara indonesia koefisien elastisitas penggunaan energi adalah 1,84 %. Ini artinya untuk meningkatkan PDB 1% maka energi yang diperlukan harus naik 1,84%. Dengan angka penggunaan energi sebesar ini maka Indonesia dikatakan sebagai negara yang paling boros dalam penggunaan energi jika dibandingkan dengan negara lain apalagi dengan negara maju. Sumber energi utama di Indonesia berasal dari minyak bumi. Sektor yang berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah sektor pertanian, industri, dan transportasi yang setiap tahunnya mendapat subsidi dari pemerintah. Pada sektor tersebut biasanya menggunakan sumber energi berasal dari bahan bakar minyak (BBM) yaitu minyak diesel.

Sejak menjadi negara pengimpor minyak bumi pada tahun 2005 maka subsidi untuk bahan bakar minyak semakin membebani pemerintah Indonesia. Jika selama ini bahan bakar minyak menjadi sumber pemasukan bagi negara maka sejak tahun 2005 malah menjadi sumber pengeluaran utama bagi negara. Hampir sepertiga dari kebutuhan minyak bumi di negara ini harus di impor dari luar negeri, produksi minyak bumi Indonesia 1 juta barel perhari sedangkan kebutuhannya 1,3 juta barel perhari. Melihat keadaan seperti ini maka pemerintah mulai melirik sumber energi alternatif yang mampu menyumbang devisa bagi negara. Sumber energi yang mulai di lirik adalah gas alam, batu bara, panas bumi, energi sinar matahari, energi samudra hingga bahan bakar nabati (BBN).

Bahan bakar nabati mendapat perhatian dari pemerintah karena di Indonesia tersedia cukup untuk keperluan ekspor dan dalam negeri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh BPPT sumber bahan bakar nabati yang ada di Indonesia cukup banyak yaitu 30 jenis tanaman. Di antara 30 jenis tanaman tersebut yang paling memungkin di pakai sebagai sumber bahan bakar nabati ada dua jenis tanaman yang layak dikembangkan ditinjau dari aspek teknis dan aspek ekonomi yaitu kelapa sawit (Palm Oil) dan jarak pagar (Curcas Jatropa).

Kedua jenis tanaman ini sangat familiar bagi masyarakat Indonesia karena tanaman sawit merupakan penghasil minyak mentah sawit yang kita kenal dengan Crude Palm Oil atau CPO. Tanaman jarak pagar sudah dikenal sejak zaman penjajahan Jepang yang digunakan sebagai minyak pelumas untuk mesin perang tentara Jepang Pada Perang dunia ke-2 dan minyak mentah yang dihasilkan oleh minyak jarak dikenal dengan nama Curcas Jatropa Oil atau CJO. Bahan bakar nabati yang diolah dari kedua tanaman ini kita kenal dengan biodiesel.

Bahan bakar biodiesel sesuai namanya di pakai sebagai pengganti atau campuran minyak yang digunakan untuk mesin diesel. Biodiesel ini memang bukan 100 % tapi campurannya terdiri dari 70 % minyak solar dan 30 persen dari Fatty Acid Metyl Ester atau yang lebih dikenal dengan nama FAME. FAME merupakan produk turunan dari CPO dan CJO lewat reaksi trans-esterifikasi. Untuk biodiesel dari minyak jarak Indonesia pantas bersyukur karena satu-satunya negara di dunia yang mampu membuat biodiesel dengan komposisi 100 persen dari minyak jarak.

Walaupun cuma 30 persen tapi produksi biodiesel berbahan baku dari kelapa sawit lebih menjanjikan dari tanaman jarak karena ketersediaan sawit lebih banyak, harga minyak sawit agak stabil di pasaran dunia, selain itu minyak sawit dijadikan sebagai komiditas makanan. Hal tersebut belum berlaku bagi tanaman jarak karena belum teruji dalam komersil dan masih dalam percobaan. Maka untuk strategi jangka pendek dan menengah digunakan CPO sebagai bahan baku untuk biodiesel.

Jika biodiesel diproduksi dari CPO maka akan mengganggu pasokan untuk keperluan industri lain yang berbasiskan CPO misalnya industri minyak goreng, margarin, surfaktan, industri kertas, industri polimer dan industri kosmetik. Selain itu kapasitas pabrik yang dibangun harus dalam skala besar dan harus terintegrasi dengan industri CPO. Skala yang ideal yang minimum untuk pembangunan biodiesel dengan berbahan baku biodiesel adalah 100 ribu ton per tahun dengan laju pengembalian modal sekitar 6 tahun. Angka ini akan sulit terealisasi mengingat industri lain juga membutuhkan CPO dalam jumlah yang besar.

Tantangan yang lain bagi pengembangan industri biodiesel adalah harga CPO dan bahan baku pendukung lainnya cenderung naik, harus bersaing dengan BBM konvensional yang sewaktu-waktu harganya bisa jatuh. Karena harga BBM konvensional tergantung pada situasi politik di Timur Tengah, jika kondisi politik di Timur Tengah telah stabil maka harga minyak akan jatuh kembali. Mengingat krisis seperti ini pernah terjadi pada dekade 70-an terjadi embargo minyak bumi. Selain itu adanya persaingan dengan penghasil biodiesel utama di Eropa yaitu negara Jerman dengan kapasitas produksi 2 juta ton pertahun. Sebagian besar paten proses pengolahan biodiesel di pegang oleh negara Jerman. Melihat kondisi seperti ini perlu dilakukan inovasi untuk pengolahan biodiesel. Maka alternatif yang dipakai untuk pembuatan biodiesel adalah menggunakan limbah dari produksi CPO atau yang lebih dikenal dengan nama CPO parit.

Pada tahun 2005 Indonesia punya 360 pabrik CPO dengan produksi 11,6 juta ton dan dihasilkan limbah cair sebanyak 0,355 juta ton. Limbah cair kelapa sawit memiliki BOD sebesar 25.000 mg/l, COD sebesar 50.000 mg/l dan pH 4,2 (bersifat asam) limbah ini akan menimbulkan masalah bagi lingkungan hidup jika dibuang secara langsung. Menurut Kementrian Lingkungan Hidup batasan limbah yang dibuang ke alam adalah 100 mg/l untuk BOD, 350 mg/l untuk COD dan kisaran pH sebesar 6 – 9. Jika limbah cair ini dimanfaatkan untuk keperluan produksi biodiesel dengan perkiraan hilang sebesar 10% maka kemungkinan FAME yang akan dihasilkan sebesar 0,320 juta ton yang bisa diolah menjadi 7,093 juta liter biodiesel/tahun.

Kelebihan pembuatan biodiesel dengan bahan baku limbah cair CPO adalah sebagai berikut:

1. Meniadakan pencemaran limbah terhadap pencemaran air tanah dan sunagai.

2. Transfer Pricing karena penggunaan biodiesl berbahan baku ini akan menekan pokok produksi CPO. Harga solar untuk keperluan industri per 1 Juli 2006 Rp 6.321,22 – Rp 6.595,70 per liter (berdasarkan suplai point). Apabila Pabrik CPO menggunakan Biodisel berbahan baku ini, maka biaya yang dikeluarkan hanya Rp. 4.785,00 perliter (harga standar yang dibuatkan untuk biodiesel mutu standar) harga ini dapat ditekan lagi karena CPO parit hanya Rp.300,00 perliter. Harga ini dapat ditekan lagi jika terjadi kontrak tetap dengan pabrik CPO yang ada karena akan dapat terbantu terhadap solusi limbah cair yang di hasilkan.

3. Memperoleh CDM (clean development mechnism).

4. Bisa di bangun terintegrasi dengan pabrik CPO karena berfungsi sebagai pengolah limbah.

Propinsi Riau merupakan daerah penghasil CPO terbesar di Indonesia yaitu dengan produksi 3,3 juta ton pertahun atau hampir 30 persen dari total produksi sawit Indonesia. Dengan angka produksi sebesar ini maka CPO parit yang dihasilkan adalah 0.1065 juta ton atau 106,5 ribu ton. Jika dibangun pabrik biodiesel dengan menggunakan CPO parit di Riau dan terintegrasi dengan pabrik CPO maka akan mengurangi angka pengangguran. Mengingat pabrik CPO di Riau berjumlah 118 buah, jika di asumsikan satu pabrik biodiesel menyerap tenaga kerja 20 orang maka jumlah tenaga kerja yang terserap adalah 2.360 orang. Sebuah peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan bisa memininalisir angka kemiskinan di Riau. Maka ada satu pertanyaan yang muncul, Adakah minat kita untuk mengembangkannya???

Inilah Defenisi Cinta

Dalam kehidupan sehari-hari selaku pembaca yang baik pasti mengenal tokoh Fahri yang baik dalam novel fenomenal Ayat-Ayat Cinta, selanjutnya anda juga mengenal tokoh Hanafi dalam roman “jadul” Abdul Muis dengan Salah Asuhan. Tema yang diambil dari kedua roman ini sama yakni “cinta”namun terdapat banyak prasangka yang timbul dari kedua roman ini.

Pembaca yang baik, apa pendapat anda tentang paparan di atas? Ternyata sesuatu yang persis sama dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda tergantung pada posisi dan kepentingan kita. Bahkan baik buruknya suatu peristiwa sangat tergantung kepada terganggu tidaknya kepentingan kita. Memang inilah yang selalu yang kita hadapi kalau dalam ilmu filsafat Tao Te Ching kehidupan ini harus ada keseimbangan antar Yin dan Yan.

Perubahan yang besar, revolusioner dan menakjubkan akan terjadi ketika kita mampu melihat suatu masalah dari sudut pandang orang lain, terutama dari sudut pandang dengan pihak yang yang berseberangan dengan kita. Inilah defenisi sebuah cinta. Cinta adalah kemampuan kita melihat dari sudut pandang orang lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain bahkan menghayati suasana kehidupan orang lain. Dalam Novel ayat-ayat cinta defenisi ini dengan baik diperankan oleh seorang Maria sang gadis koptik yang begitu menghayati tetangganya yang soleh dan baik hati. Defenisi ini sangat sederhana tetapi jika dilaksanaka akan terasa sulit. Karena cinta berhubungan dengan ego yang lahir dari diri kita. Kita sering menganggap penderitaan kita sebagai permasalahan terpenting di dunia. Benarkah??? Andalah yang tahu jawabannya.

Kita harus menyadari kecenderungan kita yang selalu mengganggap masalah kita sendiri sebagai masalah yang terpenting. Hal ini tidak akan melahirkan sebuah cinta. Dalam Salah asuhan Hanafi selalu mengganggap sesuatu dengan kepribadiannya yang sudah melupakan bangsanya sendiri yakni cinta terhadap budaya minang yang telah membesarkannya. Cinta hanya dapat lahir dari kesadaran bahwa masalah yang dihadapi orang lain juga amat sangat penting. Kita harus mampu merasakan, menyelami dan menghayati situasi orang lain. Kemampuan inilah yang disebut dengan cinta.

Jika ada memiliki masalah dengan seseorang, coba bayangkan diri kita berada pada diri orang tersebut. Pasti kita akan menemukan berbagai kejutan yang mencerahkan. Suatu pekerjaan yang sangat sederhana bagi kita. Dengan melihat masalah dengan berbagai sudut pandang maka kita akan lebih menghargai, memaafkan dan mencintai. Melihat sesuatu dengan sudut pandang orang lain, kita akan senantiasa diliputi perasaan rasa cinta dan belas kasih yang tak pernah putus. Kita juga akan merasakan bahwa sesungguhnya kita adalah SATU dari segi morfologis, psikis, dan genetis. Kita benar-benar dalam satu keatuan, inilah yang disebut dengan cinta dan inilah hakikat dari spritualitas.

Dalam ayat-ayat cinta kita bisa menghayati bahwa penghargaan terhadap diri dan hakikat orang lain adalah sumber energi yang menghasilkan suatu kekuatan yang bernama cinta. Cinta bukanlah hakikat penghargaan terhadap kehidupan pribadi sperti cinta semu yang disajikan dalam kehidupan sinetron dan film yang tersaji dalam media sehari-hari.

Sebelum tulisan ini tertutup ada baiknya kita menghayati sebuah cerita seorang anak yang miskin yang hanya memiliki seorang sahabat (maaf bukan sinetron). Ia sering diejak dan dihina oleh teman-teman lainnya. Suatu hari menjelang ulang tahun anak miskin itu, sahabatnya membayangkan betapa hari itu menjadi hari yang menyedihkan bagi si miskin. Bayangkan tidak ada orang yang ,mengucapkan selamat ulang tahun, tak ada kue ulang tahun, tak ada hadiah, dan tak ada yang peduli. Oleh karena itu sang sahabat menceritakan pada ibunya dan ia berharap sang ibu dapat menolong si anak miskin di hari jadinya.

Akhir cerita, di hari yang berbahagia itu sang ibu membuat suatu kejutan. Ia muncul di pintu depan kelas anaknya sambil membawakn kue dengan lilin yang menyala, menyanyikan lagu ulang tahun dan mendoakan kemudian menyalami si anak miskin itu yang tertegun meneteskan air mata menyaksikan kejutan yang datang tersebut. Berpuluh tahun kemudian peristiwa ini dikenang sahabatnya sebagai salah satu peristiwa yang paling indah dalam hidupnya. Ia pun berkata, ”aku hampir tak bisa mengingat lagi nama-nama temanku yang ikut merayakan ulang tahun itu. Aku pun tak tahu temanku yang berasal dari keluarga miskin itu sekarang berada. Tapi setiap aku mendengar lagu dan doa yang kukenal itu, aku ingat hari itu, saat nada-nadanya berbunyi sangat indah, saat doa-doa dilantunkan dengan menyayat hati: di dalam suara seorang wanita bernama IBU mengalun dengan lembut, cahaya di dalam mata seorang anak laki-laki dan kue yang paling manis.


12 Mei 2007 pukul 07:05 pagi